Minggu, 18 Desember 2011

PROSES VERSUS PRODUK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA


PROSES VERSUS PRODUK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Solichan Abdullah *)
Pendahuluan
Salah satu masalah yang dihadapi bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan saat ini adalah masih rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang sekolah. Di sisi lain, penyelenggaraan sekolah dituntut harus dilakukan secara bertanggungjawab dan harus berperan aktif dalam merealisasikan kebijakan pendidikan nasional. Agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai standar mutu nasional dan juga internasional, maka seluruh program/kegiatan peningkatan mutu pendidikan perlu dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi. Hal ini harus dilaksanakan agar sistem pendidikan nasional dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, serta tuntutan desentralisasi.
Kualitas proses dan produk pendidikan kita sekarang ini dianggap masih jauh dari memadai, lebih-lebih kalau dikaitkan dengan upaya mempersiapkan manusia Indonensia di abad global. Banyak hasil penelitian akhir-akhir yang menunjukkan hal tersebut yang tidak perlu dikupas lagi karena kita terlalu sering mendengarkannya.. Hasil yang kurang memuaskan ini mungkin sebagian terjadi karena kekurangpahaman kita menyelenggarakan proses pembelajaran yang memenuhi persyaratan, sebagian lagi mungkin karena kekeliruan cara pandang kita terhadap proses pendidikan. Pada saat ini proses pendidikan sebagian besar dilakukan melalui penyampaian informasi, bukan pemrosesan informasi yang mengacu ke arah pemecahan masalah. Di sekolah, guru masih tetap merupakan sumber informasi yang paling dominan, padahal sumber informasi lain demikian melimpah yang menuntut untuk dimanfaatkan. Proses pendidikan sebagian besar masih berpusat pada kegiatan mendengarkan dan menghafalkan, bukan memberikan interpretrasi dan makna terhadap apa yang dipelajari dalam upaya untuk membangun pengetahuan sendiri.
Dalam mengimplementasikan kemampuan dan keterampilannya di kelas, seringkali guru dihadapkan pada dua masalah yang klasik, yaitu mengajar yang berorientasi pada hasil belajar, lebih khusus lagi prestasi belajar (produk) peserta didik dan mengajar yang menekankan pada proses pembelajaran. Mengajar yang berorientasi pada produk dalam pratik akhirnya mengarah pada pendekatan pembelajaran berpusat pada kegiatan mengajar guru (teacher centered) karena guru merasa dikejar oleh target penyelesaian kurikulum, walaupun kesulitan siswa dalam menerapkan konsep matematika tidak hanya disebabkan dari diri siswa tetapi juga dari luar siswa. Di lain pihak mengajar yang menekankan pada proses umumnya mengutamakan pembelajaran yang cenderung pada kegiatan pembelajaran siswa (student centered).
1
Berkenaan dengan kelulusan peserta didik yang antara lain ditentukan nilai hasil Ujian Nasional (UN), ada yang setuju dan ada pula yang kurang setuju, walaupun akhirnya semua satuan pendidikan harus mengikuti UN. Untuk mengantisipasi hal itu mereka harus membuat persiapan semaksimal mungkin dan berusaha dengan serius karena tidak mau disalahkan apabila peserta didiknya ada yang tidak lulus. Langsung atau tidak langsung kebijakan tersebut membawa dampak pada masalah proses pembelajaran di kelas. Ada guru yang memfokuskan pada kegiatan pembelajaran yang mengutamakan pada hasil belajar (produk), dilain pihak ada guru yang menekankan pada proses dalam pembelajaran untuk memberi pengalaman nyata pada peserta didik dalam belajar..
Mengapa Produk?
Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian guru masih menggunakan paradigma lama dalam mengajar. Dalam pembelajaran matematika, guru memulai sajian dengan mengajar teori/definisi/ teorema, diberikan contoh, dan terakhir diberikan latihan soal-soal. Pendekatan pembelajaran seperti ini disebut ’mekanistik., tidak ada ‘matematisasi horisontal’ maupun ‘matematisasi vertikal’ (Suryanto, 2001) dan struktur pembelajaran seperti ini hampir selalu dilakukan setiap pertemuan. Pada waktu membahas teori peserta didik cukup memahaminya melalui penjelasan guru walaupun kadang-kadang tidak memahami apa yang mereka kerjakan sedangkan teorema tidak perlu dibuktikan karena sebagian peserta didik merasa tidak tertarik karena cukup rumit dan menghabiskan banyak waktu. Dalam kenyataannya, bukti tidak pernah ditanyakan dalam ujian apapun sehingga waktu yang digunakan untuk membahas bukti dapat dimanfaatkan untuk membahas latihan soal, terutama yang sering muncul dalam ujian. Masalah penalaran, diharapkan dalam masa pertumbuhan peserta didik akan muncul dengan sendirinya. Dalam skenario pembelajaran ini memang guru agak mendominasi kegiatan pembelajaran karena mengajar adalah menyampaikan pengetahuan dan belajar adalah memahami apa yang disampaikan oleh guru sehingga peserta didik harus melaksanakan perintah guru berlatih mengerjakan soal. Agar waktu yang tersedia dapat digunakan sebaik-baiknya maka guru harus mengatur dan menentukan bahan pelajaran, sedangkan peserta didik tidak turut serta merancang, menentukan langkah-langkah, dan menilai hasil belajar sehingga peserta didik terfokus pada tugasnya yaitu belajar.
Memang, pada pembelajaran seperti di atas peserta didik belajar secara prosedural dan algoritmik, dan cara-cara inilah yang diangggap oleh sebagian guru paling praktis, efektif dan menurut pengalaman mereka selama ini cukup berhasil dalam menyiapkan peserta didik untuk menghadapi ujian. Terbukti, sebagian peserta didik maupun orang tuanya selalu menginginkan untuk mengikuti les privat yang metodenya hanya membahas cara-cara penyelesaian soal atau
2
mengutamakan latihan dan menghafal fakta-fakta yang diharapkan akan keluar pada ujian. Peserta didik memburu tempat belajar yang dapat memberikan kepuasan dalam mengerjakan soal yaitu mencari trik-trik pengerjaan soal, mencari ‘jalan tol’ sehingga dalam ujian mampu bersaing dengan temannya. Guru mempertahankan cara-cara ini yang digunakan dalam pembelajaran karena alasan ’terpaksa karena ujian’, jadi teaching for the test. Dengan strategi tersebut guru dapat mengontrol kelas, mengarahkan kegiatan pembelajaran sehingga target materi yang ditetapkan kurikulum dapat dicapai. Sebagian guru lebih suka menggunakan cara-cara seperti itu, sebab dalam kenyataannya soal-soal yang ditanyakan dalam UN hanya menguji ranah kognitif peserta didik dan instrumennya adalah tes tertulis bentuk pilihan ganda. Begitu pula dengan peserta didik yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka cukup mempersiapkan diri dengan mengikuti les baik yang diadakan oleh sekolah maupun lewat lembaga bimbingan belajar atau les privat. Tujuannya adalah mereka dapat lulus dan mendapat nilai baik dan dalam kenyataannya banyak peserta didik yang berhasil dengan cara seperti ini. Dengan cara-cara seperti itu ternyata dapat mencetak banyak pemimpin bangsa termasuk ahli pendidikan saat ini.
Prestise dan prestasi sekolah dipertaruhkan pada waktu peserta didik mengikuti ujian karena nilai ujian sangat mempengaruhi ’nasib’ peserta didik maupun sekolah di masa depan.. Sistem penilaian seperti inilah yang memprihatinkan pihak sekolah dalam hal ini guru, sehingga guru perlu membuat langkah-langkah strategis untuk menyikapinya. Salah satu ciri manusia adalah melakukan sesuatu yang tidak merepotkan dirinya serta menginginkan sesuatu yang aman bagi dirinya. Strategi apapun yang ditawarkan oleh para inovator pembelajaran yang mengajak untuk memperhatikan proses pembelajaran dianggap membuang-buang waktu sehingga tidak akan mengubah persepsi guru dalam mengajar selama ini. Pembelajaran dikatakan efektif apabila nilai ulangan/ujian peserta didik memuaskan sehingga mereka lulus ujian karena memenuhi passing grade yang ditetapkan walaupun dengan metode yang didominasi oleh ceramah. Masyarakat awam seolah tidak mau tahu pada masalah proses pembelajaran dan mereka hanya mengharapkan nilai ujian anaknya baik, lulus, dan dapat masuk sekolah favoritnya. Dengan demikian seolah terjadi ‘kolusi’ antara peserta didik, orang tua, dan guru.
Mengapa Proses?
Misalkan kita berada di terminal bus setelah pulang dari luar kota, kemudian kita akan pulang ke rumah. Ada bermacam-macam cara kita untuk pulang antara lain dengan naik taksi, naik becak, atau naik kendaraan lain. Jika dibandingkan dengan naik taksi maka naik becak akan membutuhkan waktu yang lebih lama, tetapi pengalaman orang yang naik becak kemungkinan akan lebih banyak dari yang naik taksi, antara lain dapat menikmati perjalanan dengan santai, menikmati pemandangan alam atau memandang gedung-gedung dengan jelas dan lebih lama,
3
dapat bertemu dan bertegur sapa dengan teman atau orang lain dengan mudah karena jalannya becak pelan.
Uraian di atas adalah salah satu gambaran dalam pembelajaran yang menekankan proses daripada produk. Walaupun time is consuming atau akan menyita banyak waktu tetapi peserta didik diharapkan mendapat banyak pengalaman dalam belajar. Menurut Kolb (1984), salah satu karakteristik belajar melalui pengalaman adalah belajar lebih dipersepsikan sebagai proses, bukan sebagai hasil. Peserta didik adalah sosok makhluk hidup yang mempunyai potensi diri yang dapat dikembangkan, sehingga harus diberdayakan bukan diperdaya. Suatu proses pembelajaran yang efektif dan bermakna ( Ausubel dalam Hudoyo, 1988:112) akan berlangsung apabila memberikan keberhasilan dan kepuasan baik bagi guru maupun peserta didiknya. Dalam rangka menuju ke pembelajaran bermakna itu maka telah dikembangkan strategi, pendekatan, metode pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik , antara lain dikenal dengan istilah cara belajar siswa aktif (CBSA), pembelajaran aktif inovatif kreatif dan menyenangkan (PAIKEM), Contextual Teaching and Learning (CTL) atau pembelajaran kontekstual, dalam pendidikan matematika dikenal Realistic Mathematics Education (RME) atau Pendidikan Matematika Realitik Indonesia(PMRI).
Menurut Nasution (1986: 11) pengetahuan adalah salah satu aspek dari tujuan pendidikan, sedangkan yang dituju adalah pembentukan seluruh pribadi peserta didik. Pengetahuan bukanlah tujuan pendidikan, melainkan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Cara mengajar dengan menyuruh peserta didik menghafal ini mengabaikan minat peserta didik, hubungan dengan kehidupannya, serta menimbulkan bahaya verbalisme. Menurut ahli pendidikan klasik John Dewey, peserta didik akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran di sekolah. Berakar pada filsafat pragmatisme yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman peserta didik yang digagas oleh John Dewey pada awal abad ke-20 yang lalu, muncullah paham konstruktivisme yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Peserta didik harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Konstruktivisme merupakan salah satu komponen pendekatan CTL, sedangkan komponen lainnya adalah ada unsur bertanya, pengetahuan dan pengalaman diperoleh dari kegiatan menemukan, terbentuk masyarakat belajar, ada model yang ditiru (pemodelan), dan dilakukan penilaian sebenarnya (Nurhadi, dkk.,2003: 119). Dalam matematika ada pendekatan PMRI yang mirip dengan CTL. Karakteristik dari PMRI adalah (1) menggunakan masalah kontekstual, (2)menggunakan model, (3)menggunakan kontribusi siswa,
4
(4)interaktivitas, dan (5)terintegrasi dengan topik lain (Yuwono, 2001). Pendidikan matematika realistik berpotensi meningkatkan pemahaman matematika dan kemampuan memecahkan masalah serta melibatkan berpikir tingkat tinggi (Resnick dalam Nurhadi dkk, 2003), antara lain nonalgoritmik yaitu alur tindakan yang tidak sepenuhnya dapat ditetapkan sebelumnya.
Kemampuan berpikir logis, kritis sangat didambakan di zaman informasi dewasa ini. Kemampuan itu harus diwujudkan dalam pembelajaran matematika khususnya maupun pembelajaran mata pelajaran lainnya.. Berpikir kritis dan kreatif memungkinkan peserta didik mengkaji masalah-masalah secara sistematis, ditantang untuk mencari cara-cara yang terorganisasi dengan baik dalam memecahkan suatu masalah, dapat merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang inovatif, dan dapat merancang pemecahan masalah secara tepat. Berpikir kritis membantu peserta didik memahami bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri, bagaimana mereka melihat dunia yang seluas ini, dan bagaimana mereka berhubungan dengan oranglain. Berpikir kritis membantu peserta didik menguji sikap mereka sendiri dan menghargai nilai-nilai yang harus mereka pelajari. Siswa perlu dilatih agar mampu membedakan mana yang disebut berpikir baik dan tidak baik, mana yang benar dan mana yang salah.
Kemampuan tersebut di atas tidak dapat diterapkan hanya dengan metode ceramah, maupun melalui langkah-langkah terstruktur yang ada atau secara prosedural. Alternatif pembelajarannya adalah pemecahan masalah dan kekuatan-kekuatan proses pemecahan masalah terletak di dalam kemampuan siswa mengambil bagian secara aktif, dengan syarat masalah yang disajikan itu adalah harus bermakna. Strategi pembelajaran yang dipilih harus memberikan rangsangan dan dorongan bagi peserta didik untuk berbuat secara aktif. Penilaian pembelajarannya disarankan agar menggunakan penilaian alternatif antara lain penilaian kinerja, portofolio, proyek(tugas), produk (hasil karya), atau jurnal, di samping penilaian tertulis.
Proses Dan Produk
Dua aliran psikologi yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dewasa ini adalah aliran behavioristik dan kognitif (konstruktivistik). Aliran behavioristik menekankan pada terbentuknya perilaku yang nampak sebagai hasil belajar, sedangkan aliran konstruktivistik lebih menekankan pada pembentukan perilaku internal yang sangat mempengaruhi perilaku yang nampak tersebut. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagi individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dapat dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu dengan metode drill (pembiasaan) semata dan teori ini hingga sekarang merajai praktek pembelajaran. Aliran konstruktivistik berupaya mendiskripsikan apa yang terjadi dalam diri seseorang ketika ia belajar. Teori ini lebih menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa internal. Belajar lebih banyak
5
ditentukan karena adanya karsa individu. Keaktifian peserta didik menjadi unsur yang sangat penting dalam menentukan kesuksesan belajar. Teori ini diakui memiliki kekuatan yang dapat melengkapi kelemahan dari teori behavioristik bila diterapkan dalam pembelajaran.
Penyimpangan rancangan dan pelaksanaan program pembelajaran yang antara lain muncul dalam bentuk pengebirian pesan menjadi pemberian informasi semata sehingga guru hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, perlu diubah sebagai mediator antara informasi dan peserta didik, fasilitator yang memberi kemudahan kepada peserta didik untuk belajar. Dengan demikian maka masalah proses pembelajaran yang mengacu kepada pembelajaran bermakna perlu diperhatikan. Namun, apabila hanya menekankan proses tanpa memperhatikan produk ibaratnya seperti bermain sepakbola yang hanya menekankan seni menggiring bola daripada seni mencetak gol. Dalam kenyataannya kedua kutub tersebut menghasilkan kekuatan tarik menarik yang dinamis yang menjanjikan peluang untuk kemajuan.
Kita sering dihadapkan untuk memilih antara memahami secara mendalam konsep yang dibicarakan tetapi hanya sedikit konsep yang dibahas dibandingkan dengan konsep tidak perlu dipahami mendalam tetapi banyak konsep yang dibahas. Dengan kata lain, peserta didik tuntas dalam mencapai kompetensi tertentu tetapi sedikit kompetensi yang dicapai, dengan banyak kompetensi yang dicapai tetapi kurang ketuntasannya dalam mencapai kompetensi tersebut. Idealnya kita tidak akan memilih salah satu dari dua pilihan tersebut. Yang diharapkan adalah baik proses maupun produk harus berjalan beriringan, dengan pertimbangan bahwa apabila prosesnya bagus maka diharapkan produknya juga bagus, artinya proses pembelajaran yang baik akan berdampak pada produk yang baik pula. Jadi, antara waktu dan isi selalu menjadi titik permasalahan, yaitu untuk menekankan isi atau proses perlu waktu cukup, sebaliknya waktu yang dibutuhkan sedikit tetapi isi atau proses kurang mendalam.
Untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan masalah waktu yang dibutuhkan untuk membuat pembelajaran bermakna, maka salah satu cara diantaranya adalah pada waktu guru menganalisis kurikulum guru perlu membuat pemetaan konsep/kompetensi yang dapat memberi kesempatan menggabung beberapa kompetensi atau indikator dalam sebuah kegiatan pembelajaran. Apabila sebelumnya kita memperhatikan masalah sekuensi, misalnya membahas masalah operasi penjumlahan baru dibahas operasi pengurangan, maka kita dapat membahas keduanya dalam satu kesempatan. Jadi guru perlu merevisi apa yang telah dilakukannya selama ini yaitu selalu mengurutkan topik atau bahasan satu persatu dalam kegiatan pembelajaran Sebagai contoh, peserta didik diberi permasalahan seperti berikut.
Adik memiliki 3 butir kelereng. Diberi ayah 6 butir kelereng. Dua kelereng diberikan kepada temannya. Berapa banyak kelereng adik sekarang? 6
Permasalahan ini diberikan pada kelompok peserta didik untuk didiskusikan, dan diharapkan dengan ’matematisasi horisontal’ peserta didik dapat memecahkan masalah tersebut dengan cara mereka masing-masing karena yang didiskusikan adalah masalah dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini peserta didik mempelajari matematika informal(Yuwono, 2001), karena peserta didik bekerja dengan intuisi, mencoba-coba, membuat model matematika yaitu mengubah bahasa sehari-hari menjadi bahasa matematika. Dengan bimbingan guru, secara individual atau secara kelompok, menggunakan ’matematisasi vertikal’ diharapkan mereka memahami sekaligus dua operasi yaitu penjumlahan dan pengurangan. Pada tahap terakhir ini, guru membimbing peserta didik untuk meningkatkan taraf materi matematika yang tadinya informal menjadi formal.
Dalam rangka menghadapi UN diperlukan waktu khusus dan ekstra untuk melatih peserta didik agar mengenal berbagai jenis tipe tes yang ditanyakan. Hampir semua satuan pendidikan melakukan kegiatan tersebut. Waktu tersebut dapat dilakukan misalnya pada bulan-bulan terakhir menjelang ujian.
PENUTUP
Guru yang profesional sangat dituntut untuk membangun proses pembelajaran yang menekankan pada keaktifan siswa serta keefektifan pembelajaran. Efektif artinya semua kompetensi yang telah ditetapkan pada kurikulum dapat dituntaskan oleh peserta didik dengan melalui proses pembelajaran yang bermakna. Guru harus memberikan fasilitas dan pengkondisian siswa yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Siswa harus diberdayakan secara manusiawi untuk mau dan mampu berbuat dalam rangka merubah pengalaman belajarnya dengan meningkatkan interaksi terhadap lingkungan. Untuk mendukung aktifitas belajar siswa, peran guru di depan kelas sangatlah penting.
Untuk meningkatkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika diperlukan strategi pembelajaran matematika yang menyenangkan, realistis dengan kehidupan sehari-hari, mengaktifkan siswa dan memberikan pengalaman-pengalaman belajar sehingga akan berdampak pada kreatifitas siswa dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Oleh sebab itu, pembelajaran PAIKEM perlu diwujudkan oleh guru agar siswa dapat mencapai standar kompetensi matematika yang diharapkan. Agar PAIKEM dapat terwujud, guru perlu dibekali dengan berbagai strategi dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan perubahan jaman, serta pemahaman materi dan media yang mendukung.
Proses dan produk, keduanya tidak perlu dipertentangkan karena keduanya menjadi tujuan pendidikan yang diidamkan. Adalah sangat bijaksana apabila guru menekankan kedua hal tersebut, termasuk dalam penilaiannya menerapkan penilaian yang autentik dengan menyeimbangkan antara penilaian terhadap penerapan pengetahuan maupun cara pikir siswa dan
7
8
penilaian terhadap hafalan informasi aktual. Oleh karena itu adalah sangat tepat kebijakan yang ditempuh Kementerian Pendidikan Nasional berkenaan dengan kelulusan peserta didik mulai tahun pelajaran 2010/2011 ini. Lulus tidaknya seorang peserta didik tidak hanya dari hasil UN saja tetapi juga dipengaruhi oleh nilai proses yang dilakukan guru di kelas. Tentu, diperlukan kesungguhan dan keobyektifan semua pihak agar mutu pendidikan meningkat secara nyata, tidak semu.
Kepustakaan
Hudoyo, H. (1988). Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya Di depan Kelas. Surabaya: Usaha Nasional.
Nasution, S. (1986). Didaktik Asas-Asas Mengajar. Bandung: Jemmars.
Nurhadi, Yasin,B, dan Senduk, A.G. (2003). Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Peraturan Pemerintah RI No.19 Tahun 2005. tentang Standar Nasional Pendidikan.Jakarta: Asa Mandiri.
Suryanto. (2001). Pendidikan Matematika Realistik. Makalah Lokakarya Widyaiswara BPG se- Indonesia tanggal 27 Maret – 9 April 2001 di PPPG Matematika Yogyakarta.
Yuwono. (2001). Realistic Mathematics Education dan Hasil Studi Awal Imlementasi di SLTP. Makalah UNESA Surabaya.

Selasa, 15 November 2011

Resume 8 (PBD)


Nim / Nama : 10.41010.0274/RICHARD

Dosen : Tan Amelia
Tugas : ADO.NET



ADO.NET

ADO.NET adalah teknologi akses data universal terbaru berdasarkan prinsip(teknologi akses data dari Microsoft .Net Framework.) tanpa koneksi (connectionless principle) yang didesain untuk mempermudah batasan koneksi yang dahulunya harus memperhatikan ketika membuat aplikasi terdistribusi. ADO.NET terdiri dari class-class yang digunakan untuk koneksi kedatabase, providing akses untuk relasional data, XML dan aplication data serta retrieve data dari hasil query. ADO.NET juga berisi class-class yang mempresentasikan Data Provider Connection, Command, DataAdapter, DataReader Objects dan object lainya. Gambar berikut ini memperlihatkan bagaimana ADO.NET dalam sebuah komunikasi antara web clien dan dan DBMS
Aplikasi hanya terhubung ke database untk beberapa saat guna mengakses atau  update data, kumudian diputus. data yang diakses dapat disimpan pada salah satu objek ADO.NET, yaitu pada DataSet atau DataView. Keuntungan dari disconnected architecture ialah mampu menangani lebih banyak user. Kelebihan lain data yang disimpan di DataSet berada di memori dan berformat XML. ADO.NET menyertakan data Provider yang khusus dibangun untuk database tertentu. Data provider ini mampu memberikan kinerja yang lebih baik karena dapat memanfaatkan optimisasi yang ditawarkan oleh vendor database bersangkutan. Dengan menggunakan custom-code yang spesifik untuk database tertentu juga menghilangkan sejumlah overhead yang terjadi ketika menggukan generic-code seperti ODBC dan OLE-DB. Rilis awal yaitu ADO.NET 1.0, baru memberikan dukungan untuk Database SQL Server dan OLE-DB. Riils berikutnya – ADO.NET 1.1 – Microsoft menambahkan dukungan untuk database Oracle dan ODBC. Pada saat yang hampir bersamaan Oracle juga merilis data provider milik mereka sendiri, yaitu ODP.NET 9.2. Ado.net juga menyediakan komunikasi antara sistem relasional dan non-relasional melalui seperangkat komponen. ADO.NET terdiri dari serangkaian Objek yang mengekspos layanan akses data ke lingkungan NET. ADO.NET dibangun untuk arsitektur terputus, sehingga memungkinkan benar-benar terputus dengan sumber data dapat dilakukan manipulasi melalui Objek Dataset, yang benar-benar independen dari Sumber Data(database).

CARA KERJA ADO.NET
ADO.NET melakukan koneksi kedatasource, mengirim query dan statement update dan memproses hasilnya.  Berbeda dengan ADO yang menawarkan konsep recordset dan cursor, ADO.NET memperkenalkan model yang benar-benar baru meliputi lima obyek dasar sebagai berikut:
Connection  =  berfungsi untuk membuat dan memelihara koneksi ke database. Parameter yang digunakan untuk membuat koneksi bisa jadi ada sedikit perbedaan antara satu database dengan database lainnya.
Command = berfungi untuk menyimpan query (perintah SQL) yang nantinya akan kirimkan ke database termasuk dengan semua parameter yang diperlukan.
DataReader = digunakan untuk membaca hasil query yang dikembalikan oleh database. DataReader hanya memberikan akses maju-saja (forward-only) namun sangat cepat untuk membaca seluruh data/record hasil query..
DataSet = obyek inilah yang membuat ADO.NET sangant berbeda dengan metode data akses yang ada sebelumnya. Obyek ini yang berada di memori dan bertindak sebagai tempat penyimpanan data/record yang didapat dari server database. DataSet sendiri tidak bisa berkomunikasi langsung dengan server database dan tidak mengetahui dari mana data yang disimpannya berasal.
DataAdapter = obyek inilah yang bertugas menjembatani DataSet dengan database sebenarnya. DataAdapter bertugas untuk menarik data/record dari database dan menyimpan kembali penambahan, perubahan atau penghapusan data/record pada DataSet kembali ke database.

ADO.NET menyediakan objek untuk mengolah data . yaitu :
1.      Objek Connection : menyediakan koneksi Sumber Data (Database)
2.      Objek Command : digunakan untuk melakukan pernyataan SQL atau prosedur yang akan dilaksanakan pada Sumber Data (database)
3.      Obyek DataReader : Aliran berbasis, forward-only, read-only pengambilan hasil query dari Sumber Data (database)
4.      Objek DataAdapter : mengisi Object Dataset dengan hasil dari Sumber Data

Objek ADO.NET

  • DataAdapter 
    Melalui DataAdapter ini kita dapat mengambil data rekaman dengan langsung memberikan perintah SQL maupun melalui objek Command.

  • Objek Connection  membuat hubungan antara aplikasi windows kita dan sumber data luar, seperti SQL Server atau Data MS-Access. Objek ini juga menyediakan mekanisme untuk mengadakan hubungan, melakukan pencarian dan melakukan transaksi. Ini adalah objek yang paling tinggi levelnya pada model Objek ADO.NET

  • Table
    Objek Recordset tidak dipergunakan lagi pada ADO.NET sebagai gantinya kita akan memakai object Table yang terdapat di dalam Dataset untuk mengakses rekaman-rekaman yang dikembalikan dari query SQL. Anda mempergunakan Objek Table untuk menyajikan data kepada pemakai.
    Objek Table ini berisi rekaman (record) yang dapat langsung dipergunakan untuk megisi gridview atau textbox.


  • DataSet
    Setelah record (rekaman) di hasilkan melalui DataAdapter lalu record tersebut diisikan ke dalam Dataset. Di dalam dataset sebenartnya bisa dimuat lebih dari satu table. Untuk kemudahan kita hanya mengisi DataSet dengan satu buah tabel saja.
  • Objek Command 
Objek Command  dipergunakan untuk melakukan pencarian, termasuk parameter khsus yang dimasukkan oleh pemakai, mengakses rekaman dati sumber data. Pada umumnya, rekaman-rekaman ini dikembalikan dalam bentuk Objek Table. Objek command dibuat dari tabel basis data, query yang tersimpan atau Query Bahasa Pencarian Terstruktur/Structured Query Language (SQL).

KEUNGGULAN ADO.NET
Keunggulan dari ADO.NET adalah dukungan terhadap XML. Secara internal obyek DataSet menyimpan data di memory dalam bentuk XML. Dukungan XML ini memudahkan ADO.NET dalam melakukan proses filtering dan sorting data yang tersimpan di memory. Dukungan XML juga memudahkan proses pengambilan data, penuilsan data kembali ke database dan mengubah ke dalam format lainnya.


Minggu, 02 Oktober 2011

TEKNOLOGI KOLABORASI

pengertian topologi jaringan komputer kepada saya. Lah bukannya saya jawab malah saya suruh baca blog ini saja, hihihi... Oke, topologi jaringan adalah bagian yang menjelaskan hubungan antar komputer yang di bangun berdasarkan kegunaan, keterbatasan resource dan keterbatasan biaya, berarti topologi-topologi jaringan yang ada bisa disesuaikan dengan keadaan di lapangan.
Topologi jaringan ada beberapa bentuk sebagai berikut:

1. Topologi Bus

Topologi ini adalah topologi yang awal di gunakan untuk menghubungkan komputer. Dalam topologi ini masing masing komputer akan terhubung ke satu kabel panjang dengan beberapa terminal, dan pada akhir dari kable harus di akhiri dengan satu terminator. Topologi ini sudah sangat jarang digunakan didalam membangun jaringan komputer biasa karena memiliki beberapa kekurangan diantaranya kemungkinan terjadi nya tabrakan aliran data, jika salah satu perangkat putus atau terjadi kerusakan pada satu bagian komputer maka jaringan langsung tidak akan berfungsi sebelum kerusakan tersebut di atasi.
gambar topologi bus
Topologi ini awalnya menggunakan kable Coaxial sebagai media pengantar data dan informasi. Tapi pada saat ini topologi ini di dalam membangun jaringan komputer dengan menggunakan kabal serat optik ( fiber optic) akan tetapi digabungkan dengan topologi jaringan yang lain untuk memaksimalkan performanya.

2. Topologi Cincin

Topologi cincin atay yang sering disebut dengan ring topologi adalah topologi jaringan dimana setiap komputer yang terhubung membuat lingkaran. Dengan artian setiap komputer yang terhubung kedalam satu jaringan saling terkoneksi ke dua komputer lainnya sehingga membentuk satu jaringan yang sama dengan bentuk cincin.
gambar topologi cincin
Adapun kelebihan dari topologi ini adalah kabel yang digunakan bisa lebih dihemat. Tetapi kekurangan dari topologi ini adalah pengembangan jaringan akan menjadi susah karena setiap komputer akan saling terhubung.

3. Topologi Token Ring

Topologi ini hampir sama dengan topologi ring akan tetapi pembuatannya lebih di sempurnakan. Bisa di lihat dari perbedaan gambar.
gambar topologi token ring
Didalam gambar jelas terlihat bagaimana pada token ring kable penghubung di buat menjadi lingkaran terlebih dahulu dan nantinya akan di buatkan terminal-terminal untuk masing-masing komputer dan perangkat lain.

4. Topologi Bintang

Topologi bintang atau yang lebih sering disebut dengan topologi star. Pada topologi ini kita sudah menggunakan bantuan alat lain untuk mengkoneksikan jaringan komputer. Contoh alat yang di pakai disini adalah hub, switch, dll.
gambar topologi star
Pada gambar jelas terlihat satu hub berfungsi sebagai pusat penghubung komputer-komputer yang saling berhubungan. Keuntungan dari topologi ini sangat banyak sekali diantaranya memudahkan admin dalam mengelola jaringan, memudahkan dalam penambahan komputer atau terminal, kemudahan mendeteksi kerusakan dan kesalahan pada jaringan. Tetapi dengan banyak nya kelebihan bukan dengan artian topologi ini tanpa kekurangan. Kekurangannya diantaranya pemborosan terhadap kabel, kontrol yang terpusat pada hub terkadang jadi permasalahan kritis kalau seandainya terjadi kerusakan pada hub maka semua jaringan tidak akan bisa di gunakan.

5. Topologi Pohon

Topologi pohon atau di sebut juga topologi hirarki dan bisa juga disebut topologi bertingkat merupakan topologi yang bisa di gunakan pada jaringan di dalam ruangan kantor yang bertingkat.
gambar topologi pohon
Pada gambar bisa kita lihat hubungan antar satu komputer dengan komputer lain merupakan percabangan dengan hirarki yang jelas.sentral pusat atau yang berada pada bagian paling atas merupakan sentral yang aktiv sedangkan sentral yang ada di bawahnya adalah sentral yang pasif.

Rabu, 28 September 2011

PBO - resume 2


Pembuatan Class
Dalam 1 package, nama class tidak boleh sama à Merupakan blueprint dari object
Kaidah nama Class :
  • Benda
  • Formula / Ruang
  • System
    • Diawali dengan huruf besar (Camel Case)
    • Tidak boleh diawali dengan angka
Class mendefinisikan sebuah object (rancangan) à membangun suatu object
Contoh :
public class testMember {
            //class member
            public static int bersama = 11;
            // instance atau object member
            public int a = 10; à merupakan object dari suatu test member, jadi harus inisialisasi dahulu
}

Bentuk Umum class

class nm_class{
            //declare instance variable
            type var1;
            type var2;
            // declare methods
            type method1 (parameters){
                        body of method
            }
}
Kontruktor adalah sebuah method khusus yang akan dipanggil ketika akan dibuat objek.
 Contoh :
 String str = new String ();
Jframe frame = new Jframe (“window1”);

Ciri-ciri konstruktor :
• Nama konstruktor sama dengan nama class
• Konstruktor tidak memiliki return value, void pun tidak boleh
• Konstruktor boleh lebih dari satu (overloading constructor)

Kapan konstruktor akan digunakan ?
“jika akan membuat objek maka harus ada konstruktor yang dipanggil dengan operator new”.

Operator New

The new operator has this general form :
Class-var = new class-name ();

Jika kita mau membuat objek :
• Harus ada konstruktor
• Konstruktor dpanggil dengan operator new

PBO - pertemuan 1

OOP, Object, Class
>> Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran PBO (Pemrograman Berbasis Obyek) :
-          Kompiler Java (Java Development Kits)
-          Text Editor (Notepad ++)
-          IDE
1.      Dr. Java
2.      Eclipse
3.      Netbeans
-          Blue J
-          Green Foot
#Definisi
OOP à Object Oriented Programming
Jadi Suatu Obyek merupakan bagian dari suatu bagian. Contoh : Rumus, formula, metode
Paradigma Dasar (Pilar-pilar) Pemrograman Berbasis Obyek
-          Abstraction
-          Encapsulation
-          Inheritance
-          Polymmorph
1.      Abstraction
Kita bisa memproyeksikan atau mengubah menjadi model
Contoh : - Membuat Sistem Informasi untuk Rumah sakit
>> Pada abstrack dibutuhkan : proses dan data
SI RS
Pasien
Obat
Dokter
Perawat
Pasien
Nama
Alamat
History
2.      Encapsulation
Information Hiding, dimana membungkus data dan object sesuai dengann class

3.      Inheritance
Turunan, dimana pada turunan ada sifat dari induknya sehingga sudah terindetifikasi. Sehingga mempunyai class sama tapi object yang berbeda. Pada satu induk diturunkan banyak class.

4.      Polimorph
Pilar ini termasuk dari Intertance, tetapi pada hal ini satu induk memiliki class yang berbeda-beda sifat.
Contoh sederhana :

PBO - resume 3


Method
Semua program yang berbasis objek pasti menggunakan method. Semua program tidak bisa dijalankan jika tidak berada di dalam method.
Cara penulisan sebuah method
                   <access modifier> <return type> <nama method> <body method>
            Ex. :
            public class MyTools {
public void cetak() {
System.out.println(“—method cetak--”);       => milik objek
}
public static void print () {
System.out.println(“—method print--”);                    => milik class
}
}
>> Harus diinisialisasi terlebih dahulu
MyTools mm = new Mytools();
mm.cetak();  à untuk object
dan bisa langsung dipanggil dengan :
MyTools.print();  à karena masuk class

#Pemanggilan method berasal dari class lain

Syarat Overloading
Dalam sebuah kelas diperbolehkan ada lebih dari satu method dengan nama yang sama dengan catatan methods dapat dibedakan berdasarkan banyaknya parameter atau tipe data parameter formal

Selasa, 27 September 2011

tugas gimbul


Nama                   : Linda Alvionita
Jurusan      : Manajemen Pendidikan 2010 B
NIM           : 101714207

PUBLIC
Kata Publik didalam masyarakat kebanyakan mengandung arti “umum”. Untuk lebih luasnya publik merupakan suatu hubungan yang dimiliki masyarakat tanpa ada batasan tertentu sehingga disini masyarakat bebas berhubungan dengan siapapun dan dimanapun mereka berada. Selain itu Publik juga bisa diartikan sekelompok orang yang memiliki tujuan yang sama, mempunyai minat dan kepentingan yang sama. Publik ini bisa terdiri dari kelompok besar yang terdiri dari beberapa orang, group/kelompok kecil yang hanya ada bebrapa orang saja.
RELATIONS
Relations diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, istilah itu mengandung arti “Hubungan Sosial” . Hubungan sosial merupakan suatu penyesuaian yang dilakukan seseorang didalam lingkungan misalnya makan sendiri, berangkat sekolah sendiri, mematuhi peraturan disekitarnya, mematuhi peraturan di sekolah dan masih banyak contoh lainnya.
Hubungan sosial pertama kali dilakukan dilingkungan keluarga bersama keluarganya dan sebaiknya saat bayi lahir, hubungan antar bayi dengan ibunya sangat diperlukan yaitu pada saat menyusui, menyusui sangat memiliki arti yang penting. Karena ikatan batin antara ibu dengan anak sangat kuat. Setelah bisa membaur dengan keluarganya, mulailah melakukan hubungan sosial di lingkungan luar yang lebih luas dibandingkan lingkungan keluarga. Hubungan sosial bisa terjalin dengan baik jika seseorang bisa berinteraksi sosial dengan baik.
PUBLIC RELATIONS
Public relations biasa disingkat dengan PR. Perkembangan public relations mempunyai hubungan yang erat dengan kemajuan-kemajuan dalam masyarakat diberbagai bidang. Kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang biasanya dapat menimbulkan suatu masalah baru yang menghalangi suatu tujuan yang telah direncanakan. Kemajuan-kemajuan di bidang pendidikan misalnya seorang siswa memiliki pendapat yang berbeda dengan siswa yang satunya dan para siswa tersebut tetap mempertahankan pendapatnya masing-masing. Hal seperti inilah yang dapat menimbulkan pertentangan-pertentangan.
Dari kepentingan-kepentingan,pendapat-pendapat yang berbeda itu pada intinya adalah mereka memiliki tujuan yang mereka inginkan dan berusaha untuk mencapai tujuan tersebut dengan sebaik-baiknya.
 Tujuan utama dari public relations adalah mempengaruhi perilaku orang secara individu maupun kelompok saat saling berhubungan, melalui dialog dengan semua golongan, dimana persepsi, sikap dan opininya penting terhadap suatu kesuksesan, menciptakan kerjasama berdasarkan hubungan yang harmonis dengan berbagai publik.
Fungsi public relations
1.     Kegiatan yang bertujuan memperoleh itikad baik,kepercayaan,saling adanya pengertian dan citra yang baik dari publik atau masyarakat pada umumnya.
2.     Memiliki sasaran untuk menciptakan opini publik yang bisa diterima dan menguntungkan semua pihak.
3.     Unsur penting dalam manajemen guna mencapai tujuan yang spesifik, sesuai harapan publik.
4.     Usaha menciptakan hubungan yang harmonis.

TUGAS HUMAS
·        Bagian Hubungan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan analisis dan penyiapan rancangan kebijakan dalam bidang hubungan masyarakat.
·        Melaksanakan inventarisasi dan mengolah data, menyiapkan bahan penyusunan rancangan kebijakan pengumpulan dan penyajian informasi, dokumentasi kegiatan-kegiatan, serta melaksanakan tata usaha bagian Humas.

TANTANGAN DALAM PROFESI HUMAS
Saat ini kita temukan suatu fenomena yang cenderung membingungkan kita. Banyak organisasi yang memiliki respon yang positif terhadap Humas dengan memasukkan Humas sebagai salah satu pendekatan manajemen dan memasukkannya ke dalam suatu lembaga tersendiri dalam organisasi. Namun masih aja ditemukan keberadaan Humas yang tidak mendukung tercapainya pelaksanaan profesionalisme Humas.
Beberapa persoalan penting yang saat ini dihadapi Humas adalah :
1.     Maih sedikit organisasi yang memberi posisi Humas di tingkat korporat. Bila ada Humas yang dapat langsung memiliki akses pada CEO, tetapi ternyata mereka (PRO) belum banyak yang dilibatkan sebagai tim pengambil keputusan organisasi.
2.     Evaluasi manajemen (eksekutif) puncak terhadap kerja Humas yang masih buruk. Humas dianggap sebagai kerja yang tidak direncanakan dengan baik, kualifikasi dan kemampuan petugas Humas yang rendah dalam bidang komunikasi dan kemampuan manajerial PRO yang lemah.
3.     Diragukannya pendidikan Humas dalam menyiapkan atau mendukung Humas yang strategis.

Ketiga hal di atas merupakan tantangan berat yang sedang dialami dunia Humas. Dan itupun menjadi tugas Humas agar tidak lagi diremehkan. Itu menjadi suatu tantangan yang pada akhirnya Humas bisa membuktikan bahwa kinerja Humas saat ini lebih baik dibandingkan sebelumnya. Sebagai contoh yang telah dijelaskan no. 1,2, dan 3 diatas, semua penjelasan diatas menganggap jika kerja Humas sangat kurang, disitulah Humas harus bisa merubahnya yaitu dengan dapat menyiapkan Humas yang strategis didunia pendidikan, selain itu agar Humas bisa menempati posisi di tingkat korporat maka Humas harus bisa mengambil suatu keputusan yang baik di dalam organisasi, dan masih banyak yang harus dilakukan Humas agar posisi Humas tersebut tidak lagi diremehkan. Menempati posisi yang benar-benar bisa dipercaya dengan hasil kerja yang sangat memuaskan untuk pihak lain.